Histats

Anak Yang Membawa Ayahnya Ke Surga

Tausiah Islam - Sang Khalifah baru kelar mengurus pemakaman pendahulunya
, Sulaiman bin ‘Abdul Malik. Karena kelelahan menunaikan mandat itu sejak semalam, ia pun berniat merebahkan tubuhnya, sejenak meluruskan punggungnya. Hanya sejenak, demikian itu niatnya.
Baca Juga : Memahami Hakikat Kecemasan

Anak Yang Membawa Ayahnya Ke Surga

Anak-anak Yang Membawa Ayahnya Ke Surga

“Ayahanda,” ucap anaknya yang baru berusia tujuh belas tahun, “apa yang hendak Ayah lakukan?” suatu tanya lugas. Dijawab santai oleh sang Ayah, “Aku hendak rehat sejenak, Anakku.” Sang Ayah sangatlah kelelahan.
Baca Juga : Amalan Berpahala Haji

“Apakah Ayah hendak menunda urusan orang-orang yang menantikan sejak semalam supaya haknya yang terampas segera dikembalikan?” tegas sang Anak. Lanjutnya dengan tanya retoris kedua, “Apakah Ayah hendak menunda urusan keluarga yang terzalimi supaya segera dipulangkan ke rumahnya?” Dan, pungkasnya santun, “Apakah Ayah bakal menunda andalan kaum Muslimin yang menginginkan Amirul Mukminin yang baru berlaku adil terhadap mereka?”

Mungkin, apabila Ayah dalam kisah itu merupakan kita, dapat sehingga respon kami merupakan membentak. Apalagi, usia sang anak baru tujuh belas tahun. Apalagi, sang Ayah merupakan seorang kepala negara. Namun, Ayah ini tidak berlaku demikian. Terhadap anak saleh yang telah mengingatkannya itu, sang Ayah hinggakan jawaban, “Hanya sejenak, Nak. Insya Allah, selepas Zhuhur bakal Ayah tunaikan semua mandat itu.”

“Dan,” sang Anak hinggakan pertanyaan lagi, “siapakah yang menjamin umur Ayah bakal hingga waktu Zhuhur?”

Itulah anak-anak yang membikin ayahnya bangga. Ia mengingatkan kemestian hidup. Ia ingatkan ayahnya bakal kepastian mati serta akhirat yang selamanya. Ia tidak segan alias malu-malu. Mereka melakukan itu atas nama cinta terhadap sosok yang telah mendidiknya.

Atas tanya sang Anak, sang Ayah pun bergegas. Ia urung merebahkan punggung. Ia segera tunaikan amanah. Bukan pesta pora seusai dilantik. Katanya sebagaimana dikisahkan Salim A. Filah dalam Lapis-lapis Keberkahan, “Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kepadaku seorang putra yang menguatkanku di dalam agama-Nya.”

Kisah ini, bagi sebagian kita, mungkin tidak asing lagi. Sang ayah merupakan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, sedangkan anaknya merupakan ‘Abdil Malik bin ‘Umar. Tapi, kisah-kisah ini wajib senantiasa kami ingat serta hinggakan di zaman ini. Setidaknya sebagai suatu andalan bakal hadirnya anak-anak penyejuk jiwa yang senantiasa bertanya lembut terhadap ayahnya, “Ayah telah shalat?” saat ia baru pulang sekolah alias kuliah, alias seorang putra yang telah rapi dengan sarung serta pecinya, kemudian meraih lembut tangan ayahnya, “Yah, ke masjid yuk. Telah mau Maghrib.”

Rabbi hablanaa minash-shaalihiin. Aamiin